Jumat, 09 November 2012

BUDIDAYA TERONG dalam polybag


Terong, Sayuran Prospektif yang Belum Digarap Intensif Dengan kandungan gizi yang tinggi, beragam serta didukung dengan rasanya yang enak membuat sayuran ini sangat disukai tua muda, yang di desa maupun kota sehingga dikenal luas. Sayangnya, budidaya sayuran terong ini belum dilakukan secara intensif padahal permintaan masyarakat akan komoditas ini semakin meningkat bahkan peluang ekspor pun masih terbuka Terong merupakan sayuran yang sudah dikenal luas masyarakat Indonesia. Ini tidak terlepas dari kebiasaan kita yang mengkonsumsinya baik dalam bentuk sayuran olahan maupun secara mentah. Dengan semakin beragamnya selera masyarakat terhadap terong, bentuknya pun mengalami perkembangan. Namun demikian, secara umum ciri fisik terong tidak jauh berbeda dari karakter seperti : bentuk bulat/lonjong, panjang, berkulit mulus, dengan kaliks (tangkai buah) yang besar sesuai ukuran buahnya. Buah terong merupakan sumber kalori yang cukup besar yaitu sekitar 24 kal. Selain sebagai sumber kalori, buah terong juga mempunyai komposisi gizi antara lain mengandung 1.5 % Protein, 0.2 gr lemak, 5.5 gr hidrat arang, 15 gram kalsium, 37 mg Fosfor, Besi 0.4 mg, Vit A 30 SI , Vit B1 0.04 mg, dan Vit C 5 mg. Dengan komposisi gizi seperti itu maka buah terong cocok dikonsumsi untuk perbaikan gizi. Meskipun terong termasuk sayuran yang digemari masyarakat, nampaknya budidaya tanaman terong ini tidak se-intensif budidaya tanaman sayuran favourit lain seperti cabai, tomat, bawang, dan lainnya. Kenyataannya tidak sedikit petani kita yang menanamnya sebagai pelengkap dan kadang ditumpangsarikan dengan tanaman lain. Tentu saja hal ini tidak terlepas dari masih kurang pentingnya peran komoditas terong di masyarakat. Padahal bila kita mengkaji potensi pasar dalam negeri saja pengusahaan terong secara intensif memberikan peluang yang cerah. Saat ini hanya ada beberapa pihak saja yang mengelola terong ini secara intensif, bermitra dengan petani kemudian melakukan pengolahan sehingga memiliki nilai tambah untuk diekspor ke luar negeri. Meskipun data sensus pertanian 1998 mengungkapkan adanya kecendrungan peningkatan baik dari produksi maupun luas areal sayuran terong di Indonesia yaitu sekitar 14.31 persen, namun dibandingkan luas areal sayuran potensial yang ada konstribusinya sangat kecil. Bahkan ada kecendrungan areal penanamannya semakin lama semakin berkurang. Padahal dengan adanya peningkatan permintaan tersebut menunjukkan peluang pasar terong masih terbuka. Kondisi ini semakin diperparah dengan masih rendahnya tingkat produktifitas terong yang dihasilkan petani yaitu berkisar 60 – 80 kuintal per hektar. Hal itu menunjukkan bahwa pengusahaan terong di Indonesia belum digarap secara optimal. Persoalan rendahnya produktifitas ini tentu saja erat kaitannya dengan penggunaan benih terong yang selama ini dipakai petani disamping teknik budidaya yang harus dioptimalkan. Penggunaan benih lokal maupun hibrida yang sudah diturunkan akan mempengaruhi hasil panen karena sifat-sifat unggul yang diturunkan tersebut sudah tenggelam karena telah ditutupi gen resesif atau gen pembawa sifat yang tidak baik. Padahal seperti kita ketahui bahwa varietas hibrida selalu memiliki kelebihan sifat unggul. Kecenderungan petani menggunakan varietas lokal maupun benih turunan ini tentu saja sangat disayangkan apalagi bila tujuan kita ingin mengoptimalkan hasil panen. Hal ini disebabkan pada benih lokal bukanlah hasil persilangan atau hasil kombinasi sehingga tidak ada penggabungan sifat unggul. Sedangkan apabila petani menggunakan benih hibrida turunan tentu saja sangat tidak dianjurkan karena sifat-sifat jelek yang dibawa oleh induknya akan bermunculan sehingga tanaman beserta hasil panennya tidak seragan. Melihat dari kecendrungan permintaan buah terong yang meningkat, maka usaha peningkatan produktifitas tanaman terong dapat dilakukan dengan penanaman secara intensif dan penggunaan benih unggul. Persemaian Budidaya terong secara intensif dimulai dari persiapan media semai. Benih terong yang akan ditanam harus berasal dari benih hibrida sehingga hasil yang dicapai nanti lebih optimal. Disaat kita melakukan pemeraman benih terong dengan kertas basah maupun handuk lembab selama 24 jam, kita mempersiapkan media semai yang terdiri dari campuran tanah dan pukan (pupuk kandang) dengan perban-dingan 2 : 1. Penggunaan pestisida bahan aktif metalaksil (Saromyl 35 SD) sebagai pencegah jamur dapat menghindarkan bibit dari penyakit dumping off . Hasil campuran media tersebut dimasukkan ke dalam polybag dengan tinggi ± 8 cm dan diameter 5 cm. Persiapan Lahan Setelah 24 jam benih tersebut melalui proses pemeraman yang dicirikan dengan munculnya radikula (calon akar), maka benih tadi siap dipindahkan ke media semai menggunakan pinset dengan posisi radikula dibawah. Selama benih di persemaian , kita dapat melakukan persiapan tanam dengan mengolah tanah. Persiapan lahan diawali dengan pembajakan sekali agar lapisan tanah yang ada di atas berada di bawah dan sebaliknya. Selanjutnya lahan diairi dengan cara di-leb/digenangi secara merata. Penggenangan sebaiknya dilakukan 3-5 jam dan selanjutnya dilakukan pembajakan kedua kalinya agar pembuatan bedengan lebih mudah. Untuk mencapai hasil maksimal, maka untuk pupuk dasar sebaiknya diberikan pupuk kandang sebanyak 15 kg/ 10 m2, dolomit 10-15 kg/ 10 m2, (khusus untuk tanah basah/tergenang/bersifat asam). Setelah pupuk kandang ditaburkan merata, maka ditambahkan pupuk urea dengan dosis 2,5 kg/10 tanaman, SP-36 3 kg/10 tanaman dan KCl 1,5 kg/10 tanaman. Jika kita menggunakan NPK maka pemberian dapat dilakukan dengan dosis 3 kg/10 tanaman. Setelah tanah dicampur dengan pupuk maka barulah dibentuk bedengan – bedengan membentuk single row (satu baris satu tanaman) dengan jarak antar tanaman 75 cm untuk selanjutnya dipasang mulsa hitam perak. Penanaman Benih yang telah disemai selama 25 hari setelah semai (HSS) dapat ditanam pada lubang tanam yang telah disediakan. Ciri dari bibit tanaman terong yang siap tanam adalah munculnya atau keluar 3 lembar helai daun sempurna atau mencapai tinggi ± 7,5 cm. Sebaiknya penanaman dilakukan pada sore hari setelah dilakukan penggenangan untuk mempermudah pemindahan dan masa adaptasi pertumbuhan awal. Sistem tanam yang digunakan untuk terong adalah sistem single row, dengan jarak antara tanaman 75 cm. Bibit yang siap tanam dimasukkan kedalam lubang tanam yang ditugal sedalam 10-15 cm kemudian ditekan ke bawah sambil ditimbun dengan tanah yang berada di sekitar lubang mulsa sebatas leher akar (pangkal batang). Untuk menjaga dari serangan hama dapat diberikan insektisida bahan aktif carbofuran. KOMPOSISI GIZI KANDUNGAN JUMLAH Kalori Protein Lemak Hidrat Arang Kalsium Fosfor Besi Vit A Vit B1 Vit C Air Bagian yang dapat dimakan 24 kal 1,5 gram 0.2 gram 5,5 gram 15 gram 37 (mg)/gram 0,4 mg 30 S.I 0,04 mg 5 mg 52,7 gram 87 % Sumber : Buku Pintar 2000 Pemeliharaan Pemeliharaan tanaman terong tidak berbeda dari tanaman lainnya, yaitu membutuhkan suplai air dan unsur hara yang cukup sehingga penyiraman yang teratur, maupun pemupukan susulan sangat perlu dilakukan. Penyiraman dapat dilakukan dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari selama seminggu pertama setelah tanam. Sedangkan pupuk susulan diberikan pada tanaman umur 21 hst antara lain ZA dosis 2.5 – 3 gram/tanaman, SP-36 2.5 – 3 gram/tanaman, KCl sebanyak 1-1.5 gram/tanaman. Pupuk diberikan dipinggir tanaman dengan jarak 10 cm dari pangkal batang. Pupuk susulan kedua dilakukan pada umur 50 HST dengan pupuk NPK Grand S-15 dengan dosis 8-10 gram per tanaman. Pemupukan ke – IV yang terakhir yaitu NPK Grand-S 15 pada saat panen yang kedua dilakukan dengan dosis sebanyak 10 gram. Disamping penyiraman dan pemupukan, pencegahan hama dan penyakit dapat dilakukan dengan menyemprotkan pestisida sesuai dengan ham atau penyakit yang menyerang . Sedangkan konsentrasinya disesuaikan dengan anjuran dan interval penyemprotan sisesuaikan dengan intensitas serangan dan kondisi lingkungan. Panen Panen pertama terong dapat dilakukan saat tanaman berumur 30 hst atau sekitar 15 – 18 hst setelah munculnya bunga. Kriteria panen buah terong layak panen adalah daging belum keras, warna buah mengkilat, ukuran tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil. Sedangkan untuk terong jenis bulat kecil panen buah dapat dilakukan pada umur 10-15 hari setelah muncul bunga dengan ciri : buah kelihatan segar, warnanya cerah bagi terong tipe hijau dan belum berwarna kecoklatan bagi terong berwarna ungu, bila dipotong belum tampak biji yang berwarna kuning keemasan dan warna daging masih putih bersih. Pemanenan dapat dilakukan seminggu dua kali sehingga total dalam satu musim dapat dilakukan 8 kali panen dengan potensi jumlah buah per tanaman bisa mencapai 21 buah. Setelah pemanenan yang ke delapan biasanya produksi mulai menurun baik kwalitas maupun kwantitasnya. Keragaman bentuk dan Jenisnya Terong tergolong ke dalam keluarga terung-terungan atau Solanaceae. Saat ini jenis terong dibedakan dari bentuk dan warna kulit buahnya yaitu ada yang berwarna ungu dan ada yang berwarna hijau. Sedangkan dari bentuknya ada yang panjang , ada pula yang bulat dan lonjong. Dari beberapa jenis terong yang ada, saat ini masyarakat umumnya lebih cenderung memilih terong yang berwarna ungu atau bernuansa ungu dibandingkan yang berwarna hijau. Bila ditinjau dari segi rasanya tentu saja tidak jauh berbeda, hanya saja ada beberapa diantaranya yang memiliki rasa manis, kesat dan tawar. Kecendrungan dalam memilih jenis terong ini juga dipengaruhi oleh selera masyarakat. Bisa saja daerah yang satu dengan daerah yang lain berbeda seleranya. Seperti di Jawa Barat, masyarakatnya yang lebih menyukai terong bentuk bulat hijau lorek dimana mereka mengkonsumsinya secara mentah untuk lalap,sedangkan di daerah lain buah terong yang panjang lebih disukai. Buah terong yang panjang maupun lonjong ini banyak diusahakan secara komersial untuk konsumsi sayuran. (Ir. Agung Setya Wibowo,MS., MD Department-TSP-Surabaya)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar